2012 - Pesan Paus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-46

http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=7353

Keheningan dan Kata: Jalan Evangelisasi
  Pesan Bapa Suci Benedictus XVI untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia Ke-46
20 Mei 2012

Saudara dan Saudariku yang terkasih,
Menjelang hari Komunikasi Sedunia tahun 2012, saya ingin berbagi dengan anda beberapa permenungan tentang salah satu aspek dari proses komunikasi manusia yang meskipun penting, sering diabaikan, dan kini tampaknya sangat perlu untuk diingat. Ini menyangkut hubungan antara keheningan dan kata: dua aspek komunikasi yang perlu dipertahankan agar tetap berimbang, untuk diterapkan  secara bergantian dan diintegrasikan satu sama lain jika ingin mencapai dialog yang otentik dan hubungan kedekatan yang mendalam di antara manusia. Ketika kata dan keheningan terpisah satu dengan yang lain, komunikasi menjadi putus entah karena keterpisahan itu menimbulkan kebingungan atau  karena, sebaliknya, menciptakan suasana dingin. Namun apabila mereka saling melengkapi, komunikasi memperoleh nilai dan makna.
Keheningan adalah unsur utuh dari komunikasi;  tanpa keheningan, kata yang kaya pesan tak akan ada. Dalam keheningan, kita lebih mampu mendengar dan memahami diri kita sendiri, gagasan-gagasan dapat lahir dan mencapai kedalaman makna. Dalam keheningan, kita memahami dengan lebih jelas apa yang ingin kita katakan, apa yang kita harapkan dari orang lain dan bagaimana mengungkapkan diri. Dengan  keheningan, kita membiarkan  orang berbicara  dan mengungkapkan dirinya; dan  kita mencegah diri kita terpatok pada kata-kata dan gagasan kita sendiri tanpa ditelaah secara memadai. Dengan demikian, ruang yang diciptakan untuk saling mendengar dan membangun hubungan manusiawi menjadi lebih mungkin.
Seringkali dalam keheningan, misalnya, kita melihat adanya komunikasi paling otentik antara orang yang sedang jatuh cinta: gerak-gerik, ekspresi wajah dan bahasa tubuh adalah tanda-tanda   mereka mengungkapkan dirinya bagi yang lain. Kegembiraan, kecemasan dan penderitaannya dapat dikomunikasikan semuanya dalam keheningan. Sesungguhnya bagi mereka, keheningan merupakan cara mengungkapkan diri yang sangat kuat. Maka keheningan membuka jalan bagi komunikasi yang lebih aktif,  yang bila disertai kepekaan dan kemampuan untuk mendengar, ia mampu mewujudkan takaran dan kodrat hubungan yang benar oleh mereka yang terlibat dalamnya. Ketika pesan dan informasi melimpah ruah, keheningan menjadi hakiki untuk membedakan mana yang  penting dan mana yang tidak berguna atau sekuder. Permenungan yang lebih mendalam membantu kita menemukan  jalinan antara peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak berkaitan, mengevalusasi, menganalisis pesan dan hal ini memungkinkan kita berbagi pendapat yang bijaksana dan relevan, sehingga melahirkan suatu stuktur  otentik mengenai pengetahuan yang kita miliki bersama. Agar hal ini terjadi, perlu dikembangkan lingkungan yang sesuai, sejenis ‘ekosistem' yang mempertahankan keseimbangan antara keheningan, kata-kata, gambar dan suara.
Proses komunikasi pada saat ini sebagian besar  dipicu oleh  pertanyaan pencarian jawaban. Mesin pencari dalam jejaringan sosial telah menjadi titik awal komunikasi bagi banyak orang yang mencari saran, gagasan, informasi dan jawaban. Di zaman kita, internet lebih menjadi sebuah forum untuk pertanyaan dan jawaban. Memang, manusia zaman kini sering diterpa dengan  jawaban-jawaban untuk pertanyaan yang tidak pernah mereka ajukan dan kebutuhan yang tidak pernah mereka sadari. Bila kita mengenal dan berfokus pada pertanyaaan-pertanyaan yang sungguh-sungguh penting, maka keheningan adalah suatu modal berharga yang memampukan kita untuk  memiliki ketrampilan membedakan secara tepat  berhadapan dengan meningkatnya stimulus dan data  yang kita terima. Bagaimanapun juga, di tengah kerumitan dan keragaman dunia komunikasi, banyak orang dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan utama tentang keberadaan manusia:  siapakah saya? Apa yang dapat saya tahu? Apa yang harus saya lakukan? Apa yang boleh saya harapkan? Hal ini penting untuk memberikan jawaban kepada mereka yang seringkali melontarkan pertanyaan-pertanyaan serupa dan membuka kemungkinan untuk sebuah dialog yang mendalam- melalui sarana kata-kata dan tukar pikiran- tetapi juga  melalui panggilan untuk permenungan yang hening; sesuatu yang seringkali lebih berharga ketimbang jawaban yang tergesa-gesa, sekaligus memberikan kemungkinan kepada para pencari jawaban menjangkau kedalaman diri dan membuka diri bagi jalan menuju pengetahuan yang telah diukir Allah dalam sanubari manusia.
Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan  yang senantiasa dilontarkan ini menunjukkan kegelisahan manusia yang tiada hentinya mencari kebenaran- dari yang terpenting hingga yang kurang penting- yang dapat memberikan makna dan harapan bagi kehidupan mereka. Kaum laki-laki dan perempuan tidak boleh merasa puas dengan tukar pikiran dan pengalaman hidup yang dangkal dan meragukan tanpa mempertanyakannya. Kita semua sedang  mencari kebenaran dan memendam kerinduan yang sama lebih dari masa yang pernah ada: "ketika manusia berbagi informasi, mereka telah berbagi diri mereka, pandangan mereka tentang dunia, harapan dan gagasan mereka" (Pesan Hari Komunikasi Sedunia tahun 2011).
Kita perlu menaruh perhatian terhadap berbagai jenis website (laman), aplikasi dan jejaring sosial yang dapat membantu manusia zaman ini menemukan waktu untuk permenungan dan pertanyaan sejati sekaligus  menciptakan ruang untuk keheningan  dan kesempatan untuk berdoa, meditasi, atau syering Sabda Allah. Melalui kalimat-kalimat yang singkat namun padat, seringkali tidak lebih panjang dari sebuah ayat dalam Kitab Suci, sebuah pemikiran yang mendalam dapat dikomunikasikan, asalkan mereka yang terlibat dalam percakapan itu tidak mengabaikan perlunya pertumbuhan hidup batin mereka sendiri. Tidak mengherankan bahwa  berbagai tradisi agama yang berbeda  menganggap kesendirian dan keheningan sebagai suatu keadaan  yang membantu manusia menemukan kembali diri mereka dan kebenaran yang memberikan makna bagi segala hal. Allah dalam wahyu Kitab Suci berbicara juga tanpa kata-kata: ‘seperti yang terungkap oleh Salib Kristus, Allah juga berbicara melalui keheningan. Keheningan Allah, pengalaman berjarak dari Allah yang mahakuasa adalah tahapan yang menentukan dalam perjalanan duniawi Putra Allah, Sabda yang menjelma . . . .keheningan Allah memperkaya kata-kata-Nya yang disampaikan sebelumnya. Dalam masa-masa kegelapan seperti inilah, Dia berbicara melalui rahasia keheningan-Nya" (Verbum Domini,21). Dalam keheningan Salib, kasih Allah dihidupi sedemikian sehingga menjadi sebuah pemberian yang paling utama. Setelah kematian Kristus, ada keheningan besar di atas bumi dan pada hari Sabtu Suci, ketika sang Raja meninggal ... Allah wafat dalam daging  dan membangkitkan mereka yang telah wafat sejak berabad-abad yang lalu" ( bacaan pada Hari Sabtu Suci); suara Allah bergema kembali, dipenuhi kasih bagi umat manusia.
Jika Allah berbicara kepada kita, bahkan dalam keheningan, kita pada gilirannya menemukan dalam keheningan kemungkinan berbicara dengan Allah dan tentang Allah. "kita membutuhkan keheningan untuk kontemplasi yang mengantar kita kepada titik dimana  sang Sabda, yaitu Sabda penebusan, lahir. (Homili, Perayaan Ekaristi bersamapara anggota Komisi Teologi Internasional, 6 Oktober 2006). Apabila kita berbicara tentang kebesaran Allah, bahasa yang kita pergunakan tidak selalu memadai, dan dengan demikian, kita perlu membuka ruang untuk kontemplasi dalam keheningan. Dari kontemplasi itu, lahirlah dengan segala kekuatan batin, kerinduan yang mendesak akan perutusan, suatu kebutuhan  ‘mengkomunikasikan apa yang telah kita lihat dan dengar" sehingga semua orang memperoleh persekutuan dengan Allah. (1 Yoh 1:3). Kontemplasi  hening menyelimuti kita di dalam sumber cinta kasih yang  menuntun kita bertemu dengan sesama sehingga kita dapat merasakan penderitaan mereka dan  menyampaikan kepada mereka terang Kristus, amanat kehidupan dan karunia penyelamatan-Nya yang penuh kasih.
Maka, dalan kontemplasi yang hening,  sang Sabda kekal, yang oleh-Nya dunia diciptakan, sungguh-sungguh hadir dan kita  menjadi sadar akan rencana penyelamatan Allah yang terpenuhi melalui sejarah kita oleh perkataan dan perbuatan. Seperti yang ditandaskan oleh Konsili Vatikan II kepada kita, wahyu Ilahi digenapi oleh ‘perbuatan dan perkataan' yang  mengandung kesatuan di dalamnya: sehingga perbuatan-perbuatan yang dilakukan Allah dalam sejarah keselamatan, mewujud  dan menggenapi pengajaran dan kenyataan yang ditandai dengan  perkataan; sementara kata-kata itu  pada gilirannya menyatakan perbuatan dan mengungkapkan rahasia yang tersembunyi di dalamnya"(Dei Verbum, 2). Rencana penyelamatan ini mencapai puncaknya dalam diri Yesus dari Nazareth, pengantara dan pemenuhan semua wahyu.  Ia memperkenalkan diri kepada kita  wajah yang benar dari Allah Bapa dan oleh salib-Nya dan kebangkitan-Nya Ia  membebaskan kita dari perbudakan dosa dan kematian kepada pembebasan anak-anak Allah. Pertanyaan medasar tentang makna keberadaan manusia  menemukan jawabannya dalam misteri Kristus yang mampu membawa damai bagi hati manusia yang gelisah. Pertusan Gereja berasal dari misteri ini dan itulah misteri yang mendorong orang-orang Kristiani menjadi pembawa harapan dan keselamatan, saksi-saksi akan kasihAllah yang  menjunjung martabat manusia serta membangun keadilan dan damai.
Kata dan keheningan: belajar berkomunikasi adalah belajar untuk mendengar dan merenung sebagaimana berbicara. Hal ini terutama penting bagi mereka yang  terlibat dalam karya evangelisasi: baik keheningan maupun kata adalah unsur hakiki, bagian utuh karya komunikasi Gereja demi pembaruan karya pewartaan Kristus zaman ini.  Kepada  Bunda Maria,  yang dalam keheningannya "mendengarkan Sabda dan menjadikannya mekar" (Doa pribadi di Loreto, 1 September 2007),  saya mempercayakan semua karya evangelisasi yang Gereja laksanakan melalui sarana komunikasi sosial.

Vatikan, 24 Januari 2012, Pesta Santo Fransiskus dari Sales
Paus Benediktus XVI.

Keheningan Kata: Paus Mewartakan Tema Hari Komunikasi Sedunia 2012


Written by Citta del Vaticano - Catholic Online   
Sunday, 16 October 2011 13:31
(Citta del Vaticano- Catholic Online) Hari Komunikasi Sedunia adalah satu-satunya perayaan tingkat dunia yang ditetapkan oleh Konsili Vatikan II. Perayaan ini dirayakan pada hari Minggu sebelum Pentakosta. Pada tahun 2012, perayaan ini akan jatuh pada tanggal 20 Mei. Menurut kebiasaan, pesan Bapa Suci untuk hari raya ini akan dipublikasikan pada tanggal 24 Januari bertepatan dengan peringatan Santo Fransiskus de Sales, pelindung para pengarang dan komunikator. Pada tanggal 29 September 2011, Komisi Kepausan untuk Komunikasi Sosial mengumumkan tema Hari Komunikasi Sedunia untuk tahun 2012: “Keheningan dan Kata-kata: Jalan Evangelisasi.”
Dalam pemikiran Paus, keheningan ditampilkan bukan sebagai lawan dari kebisingan melainkan sebagai suatu cara untuk menyambut kehadiran kata-kata dan informasi yang kita dengar. Dalam tema ini, keheningan dihubungkan dengan refleksi dan pembedaan roh. Tema ini juga mengajak kita untuk tidak berpikir secara dualistis dan mempertentangkan keheningan dengan suatu kebisingan, sebaliknya keheningan dan kata-kata dipandang sebagai dua unsur yang saling melengkapi dan jika keduanya tampil secara seimbang maka hal ini akan memperkaya arti komunikasi dan menjadikannya sebagai faktor yang menentukan dalam evangelisasi baru. Dalam hal ini Paus dengan sengaja mengaitkan tema Hari Komunikasi Sedunia dengan perayaan Sinode Para Uskup yang akan datang dan memiliki tema: “Evangelisasi Baru untuk Penerusan Iman Kristen.”
Dalam tataran praktis, tema ini juga mengajak semua orang Kristen, apapun panggilan dan status hidupnya, dapat memiliki hidup yang kontemplatif. Hidup yang kontemplatif bagi mereka yang tinggal “di tengah dunia” dinampakkan melalui doa dan kebijaksanaan dalam menyaring dan meneruskan segala arus informasi serta dari kesadaran akan kehadiran Allah dalam berbagai aktifitas hidup sehari-hari.
Last Updated on Sunday, 16 October 2011 13:36

 

2011 PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA ke-45

5 Jun 2011


Saudara dan Saudari Terkasih,

Pada kesempatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-45, saya ingin berbagi beberapa refleksi yang dimotivasi oleh suatu ciri khas yang menggejala jaman kita:  munculnya internet sebagai jejaring  komunikasi. Ada pendapat yang  semakin umum bahwa, sebagaimana revolusi industri yang pada masanya menghasilkan suatu transformasi besar dalam masyarakat melalui perubahan-perubahan yang terjadi ke dalam lingkaran produksi dan kehidupan para pekerja, demikian juga berbagai perubahan mendasar yang terjadi di dalam komunikasi di jaman sekarang ini sedang memandu  perkembangan-perkembangan budaya dan sosial yang signifikan.  Teknologi baru tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi melainkan juga memengaruhi komunikasi itu sendiri sedemikian rupa sehingga orang menegaskan bahwa kita sementara hidup dalam suatu periode transformasi budaya yang besar. Sarana penyebaran informasi dan pengetahuan ini melahirkan suatu cara baru belajar dan berpikir dengan peluang-peluang yang belum pernah terjadi guna menegakkan antar hubungan dan membangun persekutuan.

Kini, cakrawala baru yang tak terbayangkan sebelumnya telah terbuka.  Cakrawala-cakrawala tersebut membangkitkan kekaguman  karena kemungkinan-kemungkinan yang disodorkan oleh media baru itu,  dan pada saat yang sama amat menuntut suatu permenungan yang serius tentang makna komunikasi di jaman digital. Hal ini secara khusus menjadi jelas ketika kita menghadapi kemampuan luar biasa internet  dan kerumitan pemakaiannya.  Sebagaimana halnya dengan setiap hasil kecakapan manusia, teknologi komunikasi baru harus diperuntukkan bagi pelayanan  kebaikan perorangan dan umat manusia secara utuh. Jika dipergunakan dengan bijaksana, teknologi komunikasi baru dapat memberikan sumbangsih bagi pemenuhan kerinduan akan makna, kebenaran dan kesatuan yang tetap menjadi cita-cita terdalam setiap manusia.

Dalam dunia digital, menyampaikan informasi kian dipahami dalam suatu  jejaring sosial dimana  pengetahuan terbagi dalam konteks pertukaran pribadi. Perbedaan yang jelas  antara penyedia informasi dan pengenyam informasi menjadi relatif; dan  komunikasi  tidak hanya nampak sebagai pertukaran data tetapi juga sebagai suatu bentuk berbagi. Dinamika ini menyumbangkan bagi suatu penilaian baru tentang komunikasi itu sendiri, yang terutama dipandang sebagai dialog, pertukaran, solidaritas dan penciptaan hubungan-hubungan yang positif. Pada sisi lain,  hal ini  diperhadapkan dengan keterbatasan-keterbatasan yang khas dari komunikasi digital:  interaksi sepihak, kecenderungan mengkomunikasikan hanya sebagian dari dunia batin seseorang, resiko pencitraan  palsu  seseorang  yang dapat menjadi suatu bentuk  kepuasan  diri sendiri.

Secara khusus, kaum muda sedang mengalami perubahan ini dalam komunikasi  dengan semua  kecemasan, tantangan dan daya cipta, yang khas bagi orang yang terbuka dengan antusiasme dan rasa ingin tahu akan pengalaman-pengalaman baru dalam hidup.  Keterlibatan mereka yang semakin besar dalam forum digital publik yang tercipta oleh jejaring-jejaring  sosial membantu melahirkan bentuk-bentuk baru  dari hubungan-hubungan antar pribadi memengaruhi kesadaran diri sendiri dan  oleh karena itu tak pelak lagi mempertanyakan bukan saja bagaimana seharusnya bertindak tetapi juga tentang kesejatian jati dirinya. Masuk ke dalam ruang maya dapat menjadi tanda  pencarian yang otentik  akan perjumpaan pribadi dengan orang lain, asalkan tetap tanggap terhadap bahaya seperti menyertakan diri dalam sejenis eksistensi ganda atau menampilkan diri secara berlebihan di dalam dunia maya. Dalam upaya berbagi dan mencari "teman",  terdapat tantangan  untuk menjadi otentik dan setia dan tidak menyerah kepada ilusi  untuk mencitrakan tampang publik yang palsu bagi diri sendiri.

Teknologi baru memungkinkan  untuk saling bertemu di luar batas-batas ruang dan budaya mereka sendiri,  dengan menciptakan sebuah dunia yang sama sekali baru dari persahabatan-persahabatan potensial.  Ini merupakan suatu peluang besar tetapi juga menuntut  perhatian yang lebih besar  dan kesadaran akan resiko yang mungkin. Siapakah "tetangga" saya di dalam dunia baru ini? Entahkah ada bahaya bahwa  kita mungkin kurang hadir  bagi mereka yang kita jumpai dalam hidup harian kita? Apakah ada risiko menjadi lebih terganggu karena  perhatian kita terbagi-bagi  dan terserap di suatu "dunia lain" daripada dimana kita hidup? Apakah kita mempunyai waktu untuk merenungi  pilihan kita secara kritis dan memajukan hubungan yang sungguh mendalam dan berdaya tahan?  Pentinglah  untuk selalu mengingat bahwa  kontak virtual tidak dapat dan tidak boleh mengganti kontak manusiawi langsung dengan orang-orang  di setiap tingkat kehidupan kita.



Dalam era digital juga, setiap orang dihadapkan dengan kebutuhan  akan otentisitas dan refleksi. Selain itu, dinamika yang melekat di dalam jejaring sosial menunjukkan bahwa  seseorang  senantiasa terlibat dalam apa yang ia komunikasikan. Tatkala orang saling menukar informasi, mereka sudah mensyeringkan diri mereka, pandangannya tentang dunia, harapan dan cita-cita mereka.  Lantas, cara hadir yang khas kristiani di dunia digital adalah bentuk komunikasi yang jujur dan terbuka, bertanggungjawab dan hormat akan orang lain. Memaklumkan Injil melalaui media baru berarti tidak sekadar memasukkan isi religius secara terbuka ke dalam berbagai pentas media, tetapi menjadi saksi setia di dunia digital itu sendiri dan cara seseorang mengkomunikasikan pilihan-pilihan, apa yang utama, serta keputusan-keputusan yang sepenuhnya selaras dengan Injil bahkan ketika hal itu tidak  terungkap secara khusus. Selanjutnya, benar juga bahwa di dalam dunia digital  pesan tak dapat disampaikan tanpa disertai dengan kesaksian yang konsisten dari  pihak yang meyampaikannya. Dalam situasi baru itu dan dengan bentuk pengungkapan baru,  orang Kristen sekali lagi dipanggil untuk memberikan jawaban kepada siapa saja yang meminta pertanggungjawaban terhadap pengharapan yang ada dalam diri mereka (bdk. 1 Petrus 3:15)

Tugas memberikan kesaksian tentang Injil di era digital menuntut setiap orang untuk secara istimewa memiliki kepekaan terhadap aspek pesan yang dapat menantang  cara berpikir khas internet. Pertama-tama,  kita harus menyadari bahwa  kebenaran  yang ingin kita bagikan bukan berasal dari nilai "popularitas"nya atau jumlah perhatian yang diterima. Kita harus berusaha memperkenalkannya secara utuh, bukan sekadar supaya dapat diterima atau sebaliknya  malah melemahkannya. Ia harus menjadi makanan harian dan bukannya daya tarik sesaat. Kebenaran Injil bukanlah sesuatu yang memberikan rasa puas atau digunakan secara dangkal, melainkan pemberian yang menuntut jawaban  bebas. Bahkan apabila diwartakan dalam dunia internet, Injil harus terjelma dalam dunia nyata dan berkaitan dengan wajah riil saudara dan saudari kita, mereka  yang dengannya kita berbagi keseharian hidup kita. Hubungan manusiwi yang langsung tetap menjadi fundamental bagi pemakluman iman.

Oleh karena itu, saya ingin mengajak orang-orang kristiani  dengan percaya diri, dan dengan kreatifitas yang terbina dan bertanggungjawab bergabung dalam jejaring hubungan yang dimungkinkan oleh jaman digital. Hal ini bukan saja untuk memuaskan keinginan untuk hadir, tetapi karena jejaring ini merupakan bagian utuh dari hidup manusia. Internet memberikan sumbangsih bagi perkembangan cakrawala intelektual dan spiritual yang lebih kompleks, bentuk-bentuk baru kesadaran  berbagi. Di dalam wilayah ini juga kita dipanggil untuk memaklumkan iman kita bahwa Kristus adalah Allah, Penyelamat umat manusia dan Penyelamat sejarah,  yang di dalam-Nya segala sesuatu memperoleh kepenuhannya (Bdk. Ef. 1:10).  Pewartaan Injil menuntut sebuah komunikasi  yang  sekaligus penuh hormat dan peka, yang menggugah hati dan menggerakkan kesadaran; cerminan suri teladan Yesus yang bangkit tatkala Ia bergabung bersama para murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus (bdk. Lk. 24:13-35). Dengan cara pendekatan-Nya, dialog-Nya bersama mereka, cara-Nya yang lembut menggerakkan hati,  mereka perlahan-lahan dituntun  kepada suatu pemahaman akan misteri.




Dalam analisis terakhir, kebenaran Kristus merupakan jawaban yang utuh dan otentik bagi kerinduan manusia akan hidup relasi, persekutuan dan makna yang tercermin  dalam popularitas jejaring sosial yang meluas. Orang beriman yang memberikan kesaksian iman yang sungguh mendalam  tentu memberikan  bantuan yang berharga bagi internet  agar tidak menjadi sarana yang memerosotkan kepribadian manusia, memanipulasi secara emosional, dan yang memberikan kemungkinan kepada yang berkuasa  untuk memonopoli pendapat orang lain.  Sebaliknya, orang beriman mendorong setiap orang  untuk terus menghidupkan  pertanyaan manusiawi yang abadi  sebagai ungkapan  kerinduan akan sesuatu yang trasenden dan  dambaan akan bentuk-bentuk yang otentik dari kehidupan yang patut  untuk dihayati.  Justru hasrat rohani yang unik manusiawi  inilah yang mengilhami upaya kita untuk mencari kebenaran dan  persekutuan dan mendesak kita untuk berkomunikasi dengan keutuhan dan kejujuran.

Saya mengundang terutama kaum muda untuk sungguh-sungguh hadir secara berdaya guna di dunia digital. Saya mengulangi lagi undanganku bagi mereka untuk Hari Kaum Muda Sedunia di Madrid, dimana teknologi baru  sedang  memberikan sumbangannya yang besar bagi persiapannya.  Dengan pengantaraan pelindungnya St. Fransiskus de Sales, saya berdoa agar  Allah menganugerahi  para pekerja di bidang komunikasi kemampuan untuk melaksanakan karya mereka  dengan sadar dan profesional. Kepada kalian semua, saya memberikan berkat apostolik saya.

Vatikan 24 Januari 2011
Pesta St. Fransiskus de Sales

Benedictus PP XVI


Truth Proclamation and Authenticity of Life in the Digital Age

ZE10092902 - 2010-09-29
Permalink: http://www.zenit.org/article-30509?l=english

PONTIFF PROMOTES AUTHENTICITY OF LIFE IN MEDIA


Theme Chosen for World Communications Day
VATICAN CITY, SEPT. 29, 2010 (Zenit.org).- Benedict XVI is promoting a reflection on the need for authenticity of life and truth among those who work in the media.
Thus, the Pope chose as a theme for World Communications Day 2011: "Truth, Proclamation and Authenticity of Life in the Digital Age."
A Vatican communiqué announced today that this theme "is to be understood as focusing on the human person who is at the heart of all communicative processes."
"Even in an age that is largely dominated, and at times conditioned, by new technologies, the value of personal witness remains essential," it noted.
The communiqué explained, "To approach the truth and to take on the task of sharing it requires the 'guarantee' of an authenticity of life from those who work in the media, and especially from Catholic journalists; an authenticity of life that is no less required in a digital age."
It pointed out that "technology, on its own, cannot establish or enhance a communicator's credibility, nor can it serve as a source of the values which guide communication."
"The truth must remain the firm and unchanging point of reference of new media and the digital world," the communiqué added, "opening up new horizons of information and knowledge."
It concluded, "Ideally, it is the pursuit of truth which constitutes the fundamental objective of all those who work in the media."

The text of Benedict XVI's message for the 45th World Communications Day will be released Jan. 24, on the feast of St. Francis De Sales, patron of journalists.
The World Communications Day is the only worldwide celebration established by the Second Vatican Council. It is observed in most countries the Sunday before Pentecost.

1963 - Disember 4 - Dekrit Tentang Upaya-Upaya Komunikasi Sosial

PAULUS USKUP
HAMBA PARA HAMBA ALLAH
BERSAMA-BAPA-BAPA KONSILI SUCI
DEMI KENANGAN ABADI

DEKRIT TENTANG
UPAYA-UPAYA KOMUNIKASI SOSIAL
Download PDF

PENDAHULUAN

1. (Makna suatu ungkapan)
DI ANTARA penemuan-penemuan teknologi yang MENGAGUMKAN, yang terutama pada zaman sekarang, berkat perkenaan Allah, telah digali oleh kecerdasan manusia dari alam tercipta, yang oleh Bunda Gereja disambut dan diikuti dengan perhatian istimewa ialah penemuan-penemuan, yang pertama-tama menyangkut jiwa manusia, dan membuka peluang-peluang baru untuk menyalurkan dengan lancar sekali segala macam berita, gagasan-gagasan, pedoman-pedoman. Diantara penemuan-penemuan itu yang paling menonjol ialah upaya-upaya, yang pada hakekatnya mampu mencapai dan menggerakkan gukan hanya orang-orang perorangan, melainkan juga massa, bahkan seluruh umat manusia; misalnya: media cetak, sinema, radio, televisi dan sebagainya, yang karena itu memang tepatlah disebut media komunikasi sosial.

2000 - Jun 4, Vatikan. Dewan Kepausan Untuk Komunikasi Sosial

Seri Dokumen Gerejawi No. 58 B
ETIKA DALAM KOMUNIKASI
(Ethics in Communications)
Dipublikasikan oleh:
DEWAN KEPAUSAN UNTUK KOMUNIKASI SOSIAL

Vatikan, 4 Juni 2000
Alih Bahasa: Mgr. Hadiwikarta
DEPARTEMEN DOKUMENTASI DAN PENERANGAN KWI
Jakarta, Juli 2000
DEWAN KEPAUSAN UNTUK KOMUNIKASI SOSIAL
ETIKA DALAM KOMUNIKASI
Download PDF

1.             Kebaikan yang besar dan kejahatan yang besar berasal dari cara orang menggunakan media komunikasi sosial. Meskipun secara khas/tipikal dikatakan dan kita kerap kali akan mengatakannya di sini – bahwa “media “ menjadikan ini atau itu, media bukanlah kekuatan buta dari kodrat yang di luarkontrol manusia. Karena meskipun tindakan-tindakan berkomunikasi kerap menimbulkan akibat-akibatyang tidak dimaksudkan, namun manusialah yang memilih apakah akan menggunakan media untuk maksud-maksud baik atau maksud-maksud jahat, dengan cara yang baik atau cara yang jahat.Pilihan-pilihan tadi, yang merupakan hal pokok dalam persoalan-persoalan etika, dilakukan bukan hanya oleh mereka yang menerima komunikasi, yaitu para pemirsa, pendengar, pembaca - tapi lebih - lebih oleh mereka yang mengawasi alat-alat komunikasi sosial dan menentukan strukturnya, kebijakannya dan isinya. Termasuk dalam kelompok ini ialah para pejabat dan para eksekutif badan hukum, para anggota badan pengurus,para pemilik, para penerbit dan manajer siaran, para editor, para direktur pemberitaan, para produser, para penulis, para koresponden, dan lain-lain. Untuk mereka ini persoalan etika menjadi sangat penting: Apakah media digunakan untuk hal yang baik atau hal yang jahat?

2010 - 44th World Communications Day

MESSAGE OF HIS HOLINESS
POPE BENEDICT XVI
FOR THE 44th WORLD COMMUNICATIONS DAY
"The Priest and Pastoral Ministry in a Digital World:
New Media at the Service of the Word"
[Sunday, 16 May 2010]


Dear Brothers and Sisters,
The theme of this year’s World Communications Day - The Priest and Pastoral Ministry in a Digital World: New Media at the Service of the Word – is meant to coincide with the Church’s celebration of the Year for Priests. It focuses attention on the important and sensitive pastoral area of digital communications, in which priests can discover new possibilities for carrying out their ministry to and for the Word of God. Church communities have always used the modern media for fostering communication, engagement with society, and, increasingly, for encouraging dialogue at a wider level. Yet the recent, explosive growth and greater social impact of these media make them all the more important for a fruitful priestly ministry.
All priests have as their primary duty the proclamation of Jesus Christ, the incarnate Word of God, and the communication of his saving grace in the sacraments. Gathered and called by the Word, the Church is the sign and instrument of the communion that God creates with all people, and every priest is called to build up this communion, in Christ and with Christ. Such is the lofty dignity and beauty of the mission of the priest, which responds in a special way to the challenge raised by the Apostle Paul: “The Scripture says, ‘No one who believes in him will be put to shame … everyone who calls on the name of the Lord will be saved.’ But how can they call on him in whom they have not believed? And how can they believe in him of whom they have not heard? And how can they hear without someone to preach? And how can people preach unless they are sent? (Rom 10:11, 13-15).

2010 - Hari Komunikasi Sedunia Ke 44

PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI
PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA ke-44
16 MEI 2010
Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan  Sabda

Saudara dan Saudariku Terkasih,
1.      Tema Hari Komunikasi Sedunia tahun ini - Imam dan Pelayanan Pastoral di Dunia Digital: Media Baru demi Pelayanan  Sabda- disampaikan bertepatan  dengan  perayaan Gereja tentang Tahun Imam.  Tema ini memusatkan perhatian pada komunikasi digital, suatu bidang pastoral yang peka dan penting, yang memberikan kemungkinan baru bagi para imam  dalam menunaikan pelayanan kegembalaannya demi dan untuk  Sabda. Berbagai komuniti Gereja  sebenarnya telah  menggunakan media modern untuk mengembangkan komunikasi, melibatkan diri  dalam masyarakat  serta mendorong dialog pada tingkat yang lebih luas. Akan tetapi  penyebarannya yang tak terbendung serta dampak sosial yang besar pada zaman kini, media itu semakin menjadi penting bagi pelayanan imam  yang berhasilguna.

2009 - Hari Komunikasi Sedunia Ke 43

Pesan Bapa Suci Benediktus XVI
untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-43,
24 Mei 2009
Teknologi Baru, Relasi Baru:
 Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan  Persahabatan
  
Saudara dan Saudari Terkasih,         
1.      Mendahului Hari Komunikasi Sedunia yang akan datang,  Saya ingin menyampaikan kepada  anda beberapa   permenungan mengenai tema yang dipilih untuk tahun ini yakni Teknologi Baru, Relasi Baru:  Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan. Sesungguhnya teknologi digital baru sedang membawa  pergeseran yang hakiki  terhadap perilaku-perilaku komunikasi juga terhadap ragam hubungan manusia. Pergeseran itu secara istimewa  dialami oleh kaum muda yang bertumbuh bersama teknologi baru dan telah merasakan dunia digital sebagai rumah sendiri.  Mereka berusaha memahami dan memanfaatkan  peluang yang diberikan olehnya, sesuatu yang bagi kita orang dewasa seringkali dirasakan cukup asing. Dalam pesan tahun ini, Saya ingat akan mereka yang dikenal sebagai generasi digital, dan Saya ingin berbagi dengan mereka, khususnya tentang gagasan-gagasan menyangkut potensi ulung teknologi baru demi  mamajukan pemahaman  dan rasa kesetiakawanan manusia.  Teknologi baru  sesungguhnya merupakan anugerah bagi umat manusia dan kita mesti  memberikan jaminan bahwa manfaat yang dimilikinya tentu dipergunakan untuk melayani semua manusia secara pribadi dan komunitas, teristimewa mereka yang kurang beruntung dan menderita.

2009 - 43th World Communications Day

MESSAGE OF THE HOLY FATHER
BENEDICT XVI
FOR THE 43rd WORLD COMMUNICATIONS DAY 
"New Technologies, New Relationships.
Promoting a Culture of Respect, Dialogue and Friendship."
[Sunday, 24 May 2009 ]

Dear Brothers and Sisters!
In anticipation of the forthcoming World Communications Day, I would like to address to you some reflections on the theme chosen for this year - New Technologies, New Relationships: Promoting a culture of Respect, Dialogue and Friendship. The new digital technologies are, indeed, bringing about fundamental shifts in patterns of communication and human relationships. These changes are particularly evident among those young people who have grown up with the new technologies and are at home in a digital world that often seems quite foreign to those of us who, as adults, have had to learn to understand and appreciate the opportunities it has to offer for communications. In this year’s message, I am conscious of those who constitute the so-called digital generation and I would like to share with them, in particular, some ideas concerning the extraordinary potential of the new technologies, if they are used to promote human understanding and solidarity. These technologies are truly a gift to humanity and we must endeavour to ensure that the benefits they offer are put at the service of all human individuals and communities, especially those who are most disadvantaged and vulnerable.

2008 - Hari Komunikasi Sedunia Ke 42

Pesan Bapa Suci untuk
Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke- 42
Pada 4 Mei 2008
‘Media Komunikasi Sosial:
Pada persimpangan antara Pengacuan Diri dan Pelayanan.
Mencari  Kebenaran untuk berbagi dengan orang lain.

Saudara-Saudari Terkasih,
  1.  Tema Hari Komunikasi Sedunia tahun ini –“Media Komunikasi Sosial: Pada persimpangan antara pengacuan diri  dan pelayanan. Mencari kebenaran untuk berbagi dengan orang lain” – menekankan betapa pentingnya peranan media dalam kehidupan perorangan dan masyarakat. Sesungguhnya, dengan meluasnya pengaruh globalisasi, tak ada satupun ruang lingkup dalam  pengalaman hidup manusia yang lolos dari pengaruh media. Media telah menjadi bagian integral dalam hubungan antarpribadi dan perkembangan hidup sosial, ekonomi, politik dan religius. Seperti yang telah Saya tandaskan dalam Pesanku untuk  Hari Perdamaian Sedunia tahun ini (1 Januari 2008) bahwa:  ’media komunikasi sosial terutama oleh kemampuannya untuk mendidik, ia memiliki  tanggungjawab istimewa untuk memajukan rasa hormat terhadap keluarga, menguraikan secara jelas harapan-harapan dan hak-hak keluarga serta menghadirkan segala keelokannya’ (no 5).

2008 - 42nd World Communications Day

MESSAGE OF THE HOLY FATHER
BENEDICT XVI
FOR THE 42nd WORLD COMMUNICATIONS DAY
"The Media: At the Crossroads between Self-Promotion and Service.
Searching for the Truth in order to Share it with Others."
[Sunday, 4 May 2008]

Dear Brothers and Sisters!
1. The theme of this year’s World Communications Day – “The Media: At the Crossroads between Self-Promotion and Service. Searching for the Truth in order to Share it with Others” – sheds light on the important role of the media in the life of individuals and society. Truly, there is no area of human experience, especially given the vast phenomenon of globalization, in which the media have not become an integral part of interpersonal relations and of social, economic, political and religious development. As I said in my Message for this year’s World Day of Peace (1 January 2008): “The social communications media, in particular, because of their educational potential, have a special responsibility for promoting respect for the family, making clear its expectations and rights, and presenting all its beauty” (No. 5).

2007 - Hari Komunikasi Sedunia Ke 41

PESAN BAPA SUCI BENEDICTUS XVI
UNTUK HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-41
Thema:
Anak-anak dan Media:
Sebuah Tantangan untuk Pendidikan

Saudara dan Saudari yang terkasih,
1. Tema Hari Komunikasi Sedunia yang ke-41, ”Anak-anak dan Media: Sebuah Tantangan untuk Pendidikan”, mengajak kita untuk ber-refleksi atas dua pokok yang sangat penting yang berkaitan satu sama lain. Yang pertama adalah pembinaan anak-anak. Yang kedua, barangkali kurang nyata, namun tidak kalah pentingnya, adalah pembinaan media.

Aneka-ragam tantangan dalam menghadapi pendidikan dewasa ini sering dikaitkan dengan pengaruh media yang begitu menyeluruh di dunia kita ini. Sebagai suatu aspek dari gejala globalisasi, dan masih dipicu lagi dengan cepatnya perkembangan teknologi, media memang telah membentuk lingkungan budaya dengan sangat mendalam (bdk Paus Johanes Paulus II, Surat Apostolik Rapid Development, 3). Memang, sementara orang menegaskan, bahwa pengaruh formatif media ini telah menjadi saingan pengaruh sekolah, Gereja dan barangkali juga keluarga. ”Realitas, bagi banyak orang, adalah apa yang nyata dalam pandangan media” (Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, Aetatis Novae, 4).

2007 - 41st World Communications Day

MESSAGE OF THE HOLY FATHER
BENEDICT XVI
FOR THE 41st WORLD COMMUNICATIONS DAY
"Children and the Media:
A Challenge for Education"
[Sunday, 20 May 2007]

Dear Brothers and Sisters,
1. The theme of the Forty-first World Communications Day, "Children and the Media: A Challenge for Education", invites us to reflect on two related topics of immense importance. The formation of children is one. The other, perhaps less obvious but no less important, is the formation of the media.

The complex challenges facing education today are often linked to the pervasive influence of the media in our world. As an aspect of the phenomenon of globalization, and facilitated by the rapid development of technology, the media profoundly shape the cultural environment (cf. Pope John Paul II, Apostolic Letter The Rapid Development, 3). Indeed, some claim that the formative influence of the media rivals that of the school, the Church, and maybe even the home. “Reality, for many, is what the media recognize as real" (Pontifical Council for Social Communications, Aetatis Novae, 4).

2006 - 40th World Communications Day

MESSAGE OF THE HOLY FATHER 
BENEDICT XVI
 
FOR THE 40th WORLD COMMUNICATIONS DAY
"The Media: A Network for Communication, 
Communion and Cooperation"
 


[Sunday, 28 May 2006]
Dear Brothers and Sisters,


1. In the wake of the fortieth-anniversary of the closing of the Second Vatican Ecumenical Council, I am happy to recall its Decree on the Means of Social Communication, Inter Mirifica, which in particular recognized the power of the media to influence the whole of human society. The need to harness that power for the benefit of all mankind has prompted me, in this my first message for World Communications Day, to reflect briefly on the idea of the media as a network facilitating communication, communion, and cooperation.


Saint Paul, in his letter to the Ephesians, vividly depicts our human vocation to be "sharers in the divine nature" (Dei Verbum, 2): through Christ we have access in one Spirit to the Father; so we are no longer strangers and aliens but citizens with the saints and members of the household of God, growing into a holy temple, a dwelling place for God (cf. Eph 2:18-22). This sublime portrayal of a life of communion engages all aspects of our lives as Christians. The call to be true to the self-communication of God in Christ is in fact a call to recognize his dynamic force within us, which then seeks to spread outwards to others, so that his love can truly become the prevalent measure of the world (cf. Homily for World Youth Day, Cologne, 21 August 2005).

2006 - Hari Komunikasi Sedunia Ke 40

"MEDIA: JEJARING UNTUK KOMUNIKASI,
HIDUP BERKOMUNITAS, DAN KERJASAMA"

PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI
PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-40

Para Saudara-Saudari,

1. Menjelang 40 tahun penutupan Konsili Vatikan II, dengan gembira saya mengenang kembali Dekrit Sarana-Sarana Komunikasi Sosial, Inter Mirifica yang secara khusus menerima kekuatan pengaruh media bagi masyarakat manusia secara keseluruhan. Perlunya mengendalikan kekuatan itu demi kemaslahatan bangsa manusia seluruhnya telah mendorong saya, dalam pesan pertama saya untuk Hari Komunikasi Sedunia ini, untuk merenungkan secara singkat pemahaman media sebagai jejaring yang memperlancar komunikasi, hidup berkomunitas, dan kerjasama. Santo Paulus, dalam suratnya kepada umat di Efesus, dengan gamblang melukiskan panggilan kita sebagai manusia untuk "ambil bagian dalam kehidupan ilahi" (Dei Verbum, 2) karena oleh Dia, kita dalam satu roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang tumbuh menjadi tempat kediaman Allah (Bdk Ef. 2:18-22). Penggambaran luhur untuk hidup berkomunitas ini melibatkan segala aspek kehidupan kita sebagai orang kristiani. Panggilan untuk menjadi benar sebagai komunikasi diri Allah dalam Kristus sesungguhnya merupakan panggilan untuk mengakui kedinamikan kekuatan-Nya dalam diri kita, kemudian mencari jalan untuk menyebarkannya ke orang lain, sehinga kasih-Nya sungguh-sungguh (menjadi kebijakan yang) paling dominan di dunia ini (bdk. Homili pada Hari Kepemudaan Dunia, Kologne, 21 Agustus 2005)

2005 - 39th World Communications Day

MESSAGE OF THE HOLY FATHER JOHN PAUL II
FOR THE 
39th WORLD COMMUNICATIONS DAY   
"The Communications Media: At the Service
of Understanding Among Peoples"
[Sunday, 8 May 2005]

Dear Brothers and Sisters,

1. We read in the Letter of Saint James, "From the same mouth come blessing and cursing. My brothers and sisters, this ought not to be so" (James 3:10). The Sacred Scriptures remind us that words have an extraordinary power to bring people together or to divide them, to forge bonds of friendship or to provoke hostility.

Not only is this true of words spoken by one person to another: it applies equally to communication taking place at any level. Modern technology places at our disposal unprecedented possibilities for good, for spreading the truth of our salvation in Jesus Christ and for fostering harmony and reconciliation. Yet its misuse can do untold harm, giving rise to misunderstanding, prejudice and even conflict. The theme chosen for the 2005 World Communications Day - "The Communications Media: At the Service of Understanding Among Peoples" - addresses an urgent need: to promote the unity of the human family through the use made of these great resources.

2005 - Hari Komunikasi Sedunia ke 39

PESAN BAPA SUCI YOHANES PAULUS II
UNTUK HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-39

"Media Komunikasi:  
Pelayanan Saling Pengertian

Di Antara Masyarakat"



Saudara-saudari yang terkasih,
1. Kita membaca dalam Surat Santo Yakobus, "Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi" (Yak 3:10). Kitab Suci itu mengingatkan kita bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mempersatukan orang atau untuk memecahbelah mereka, untuk menjalin ikatan persahabatan atau untuk memancing perseteruan.

Ini tidak hanya berlaku untuk kata-kata yang disampaikan seseorang kepada orang lain: ini juga berlaku untuk komunikasi di segala tingkat. Dalam pelayanannya, teknologi modern menempatkan berbagai kemungkinan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk kebaikan, untuk mewartakan kebenaran akan keselamatan kita dalam Yesus Kristus dan untuk meningkatkan kerukunan dan rekonsiliasi. Namun penyalahgunaannya bisa menciptakan kejahatan yang tak terungkap, yang menciptakan kesalahpahaman, prasangka, dan bahkan konflik. Tema yang dipilih untuk Hari Komunikasi se-Dunia 2005 - "Media Komunikasi: Pelayanan Saling Pengertian Di Antara Masyarakat" - menyampaikan kebutuhan mendesak: untuk meningkatkan persatuan keluarga umat manusia dengan memanfaatkan sumber daya yang luar biasa ini.

WORLD COMMUNICATIONS DAY MESSAGES

SIGNIS - World Catholic Association for Communication

NEWS UPDATE ~ DIOCESE OF SANDAKAN

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...