Google+ Followers

1982 - Hari Komunikasi Sedunia Ke 16

PESAN
KOMUNIKASI SOSIAL DAN MANUSIA USIA LANJUT
HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA 1982

Untuk organisasi-organisasi internasional, misalnya Perser­ikatan Bangsa bangsa dan Masyarakat Eropa, tahun 1982 merupakan TAHUN KAUM TUA. Ada usaha di mana-mana untuk merangsang kepri­hatinan umum terhadap masalah-masalah tua, masalah kaum tua dan masalah orang jompo, sebagian dari umat manusia, yang dimensi-dimensinya menjadi lebih luas sebagai akibat dari perpanjangan rentang hidup dalam masa modern ini.

Bapa Suci berbicara tentang Kaum Tua dalam sambutan pada hari Minggu pertama tahun 1982. Ia menyebut kaum tua sebagai satu kategori manusia yang begitu berjasa tetapi kadang-kadang begitu diabaikan. Bapa Suci menyetujui tema tersebut untuk hari Komunikasi Sedunia kali ini. Dengan demikian beliau jelas-jelas bermaksud mendesak supaya komunikator profesional di dalam dan luar Gereja berperan serta dalam memperbaiki keteledoran ini.

Bapa Suci tunduk memberi hormat kepada kaum Tua, dan mengajak siapa saja untuk berbuat yang sama, kata Yohanes Paulus II di Munich pada tahun 1980. Ia membandingkan tahun-tahun akhir hidup seorang manusia dengan penggal akhir suatu simponi besar. Dalam penggal tersebut tema komposisi yang berbeda-beda diulang kembali dan dirangkum dalam satu alunan nada akhir yang agung.

Tema-tema yang menggema kembali dalam penggal akhir simponi hidup itu adalah kebijaksanaan, kebaikan, kesabaran, pengertian dan cinta, sebagai rahmat khusus kaum tua yang berharga.

Suatu kenyataan yang tak boleh diabaikan oleh para komunikator adalah bahwa kaum tua merupakan “pemakai “atau penerima media yang paling tekun dan setia, sebagian karena mereka mempunyai waktu yang untuk membaca, mendengarkan radio dan menonton televisi, dan sebagaian lagi sebagai obat penawar kesepian. Petugas media hendaknya bertanya diri: berapakali mereka memperhitungkan kehadiran kelompok besar kaum tua ini dikalangan para pendengar, dan beberapa banyak acara yang khusus ditujukan kepada mereka. Suatu pertanyaan lain yang patut dilontarkan: berapa jauh para pembuat acara menggunakan kaum tua sebagai peran serta aktif dalam produksi-produksinya? Dengan demikian segala kebijaksa­naan yang dihimpunkannya dari pengalaman dalam refleksi selama bertahun tahun, mereka pasti memiliki sesuatu untuk disampaikan, yang dapat berguna dan bernilai bagi generasi sekarang.
Seperti dikatakan di dalam Communio et Progressio (no 6) Saluran-saluran komunikasi sosial tak dapat diletakkan lagi untuk berfungsinya masyarakat modern secara baik, masyarakat dengan segala kebutuhannya yang rumit dan selalu berubah-rubah... Dengan mengomkunikasikan pengetahuan tentang ketakutan dan harapan bersama umat manusia, mereka membantunya untuk mengatasinya.

Pada saat ini, harapan dan kebutuhan adalah mempersatukan umat manusia dalam semangat setiakawan yang kokoh untuk memper­baiki hidup mereka yang tdlah terbakati dengan usia panjang. Peran serta media dalam hal ini akan melibatkan dua usaha: pertama merangsang keprihatinan masyarakat luas terhadap seluruh masalah Kaum Tua dan liku-likunya, kedua menciptakan suatu iklim yang menguntungkan bagi penyelesaian ysang realistis dan tepat guna. Hal ini dilakukan, sambil menitikberatkan bahwa Kaum Tua sendiri masih, mempunyai tugas yang aktif dan positif dalam ke­luarga dan masyarakat.

Apakah tugas itu? Pertama, kehadiran kaum tua itu sendiri di dalam masyarakat manusia membantu kita menentukan bagaimana masyarakat harus berfungsi dan juga menunjukkan nilai-nilai tertentu mana yang harus dianut masyarakat.

Kedua, kenyataan yang sama berfungsi menggambarkan kesinambungan generasi, dan juga menunjukkan “saling ketergantungan “ umat Allah.

Maka, Kaum Tua memiliki karisma khusus untuk menjembatani kesen­jangan generasi, karena mereka cenderung memiliki suatu penger­tian dan simpati yang lebih besar, baik terhadap mereka yang sangat muda maupun terhadap mereka yang setengah umur, dan dengan demikian berperanan besar dalam mengurangi bahaya persaingan antara mereka.
Selanjutnya warga-warga masyarakat yang tua memiliki sumber-sumber untuk memperkaya masyarakat. Sumber-sumber itu tidak selalu dihargai seutuhnya baik oleh masyarakat maupun oleh Kaum Tua sendiri. Doa-doa dan nasihatnya dapat berarti banyak bagi masyarakat. Kehadirannya merupakan pengaruh yang membawa kemantapan dalam keluarga, dan merekalah yang diperlengkapi secara luar biasa baik untuk mewartakan Injil dengan kata dan teladan. Ditem­pat tempat di mana kemerdekaan sipil dan agama dibatasi, menjadi tugas mereka mengusahakan agar nilai-nilai agama dipelihara dan diteruskan di dalam keluarga. Dalam semua masyarakat, generasi yang lebih tua memainkan peranan kunci dalam memelihara dan meneruskan harta dan nilai sejarah dan budaya demi kepentingan generasi-generasi mendatang.

Tugas tugas kongkrit para Komunikator
Kembali kepada kata-kata Paus di Muynich, ”saya tunduk memberi hormat Kaum Tua”, mungkin sekali paham kunci ysang harus menjadi contoh karya media untuk Kaum Tua adalah “hormat”.

Akan menjadi tugas para komunikator untuk menciptakan suatu gambaran positif tentang kaum tua, menitikberatkan martabatnya sebagai pribadi sebagai yang lebih tua dalam masyarakat, melalui proses menua yang hayati, sakral dan alami, mereka telah penuh dengan pengalaman, dan telah mengumpulkan segudang kebijaksanaan, yang sangat penting bgi masyarakat manusia.

Peran serta media akan menjadi sangat penting dalam menolak suatu mentalitas (yang sangat umum dalam masyarakat konsumer yang sangat maju) yang memandang Kaum Tua sebagai yang membawa kere­potan,yang tidak berguna dan tidak bermanfaat; yang membuang Kaum Tua ke dalam remang-remang pinggiran masyarakat di mana mereka tak dapat dilihat lagi. Media akan mencari segala daya untuk menciptakan iklim yang tidak membiarkan Kaum Tua merasa bersalah, karena menimbulkan masalah bagi kelompok umur yang lain.

Para komunikator Gereja khususnya harus yakin, dan harus mencoba meyakinkan pendapat umum, bahwa tak satu masyarakat pun dapat memandang dirinya maju (malahan beradab), kalau ia tidak mengambil tindakan-tindakan yang sesuai untuk menolong, melindungi dan menghormati para anggota yang lebih tua, dan bahwa kemajuan dan peningkatan taraf hidup harus dinilai dengan tolok ukur: seberapa jauh kaum tua dibuat untuk merasa dicintai, berguna dan tidak tergantung.

Para komunikator berada pada posisi yang baik untuk menarik keprihatinan umum terhadap keadaan yang mengakibatkan penderi­taan khusus bagi Kaum Tua dalam kasus-kasus tertentu. Pengaruhnya dapat penting juga dalam menjamin agar pelayanan pelayanan sosial yang diberikan kepada Kaum Tua memperhitungkan tidak hanya kebutuhan-kebutuhan fisik dan materiil tetapi juga kebutuhan psikologis dan spiritualnya.

Dimensi spiritual menjadi dukungan khusus bagi Kaum Tua dalam acara-acara media yang direncanakan untuk mereka. Mereka perlu diingatkan akan kekuatan-kekuatan moral yang dimilikinya, bahkan dalam kadar yang lebih tinggi sekarang, disaat kekuatan fisiknya menurun.

Mereka harus didorong untuk mempraktekan keutamaan-keutamaan yang dimungkinkan oleh kekuatan-kekuatan ini. Dengan demikian mereka mengisi tahun-tahun akhirnya dengan kepuasan dan perasaan berha­sil.




JOANNES PAULUS PP. II

From the Vatican, 10 May 1982

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

WORLD COMMUNICATIONS DAY MESSAGES

SIGNIS - World Catholic Association for Communication

NEWS UPDATE ~ DIOCESE OF SANDAKAN

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...